Rabu, 29 April 2009

"Dear diary..."

"Dear diary...

Hari ini aku sedih sekali. Aku ditinggal sendiri di rumah oleh orang tuaku karena beliau akan menghadiri sebuah acara penting, dan akulah yang harus menjaga rumah. Lagupula, seminggu ini aku sedang liburan tengah semester. Ini hari pertamaku menjaga rumah. Aku tidak yakin berapa jam aku harus melakukannya..."

Kututup buku diary-ku dengan pelan. Aku tidak tahu harus menulis apa lagi. Yah... tak ada siapapun di rumah kecuali aku. Untuk anak SMP seumuranku, menjaga rumah adalah sesuatu yang amat membosankan, karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Biasanya, aku ditinggal di rumah bersama kakak sepupuku yang selalu datang tiap akhir minggu. Tapi hari ini hari Kamis, bukan akhir minggu. Kuputuskan untuk tiduran saja di kamarku.

Aku berusaha untuk tidur, namun tidak bisa. Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, entah apa itu. Apa karena ini adalah hari pertamaku sendiri di rumah, sehingga aku merasa ketakutan? Ah.. tidak mungkin! Aku bukan seorang penakut. Kuhibur diriku dengan menyanyi pelan-pelan. Namun tidak bisa juga. Ada firasat aneh yang...

Ah, lupakan! Pasti hanya firasat yang tidak-tidak.

Tiba-tiba kudengar suara pintu pagar yang dibuka paksa.

"Jangan-jangan maling!" pikirku.

Aku pun keluar dari kamar dan menengok ke luar melalui jendela kamarku. Percaya atau tidak, yang kulihat kali ini tidak main-main. Hanya ayah dan ibuku yang baru saja pulang. Aneh, pikirku. Mengapa harus dibuka paksa? Bukankah ayah dan ibu membawa kunci? Dan anehnya lagi, beliau tidak pulang dengan mobil yang dibawa saat berangkat tadi.

Aku berlari keluar untuk mencium tangan beliau. Sesampainya di depan rumah, bukan senyum hangat yang kudapat dari ayah maupun ibu, tapi justru semprotan omelan yang tak berujung pangkallah yang keluar.

"Kamu dari mana saja? Orang tuanya pulang kok, tidak dibukakan pintu! Dari tadi ngapain di rumah? Main-main ya, heh!? Kerjanya main aja! Kamu itu udah besar, mestinya belajar, jangan main terus! Dasar anak bego'!"  bentak beliau sembari menjewer telingaku.

"Aaah...!!! Nggak, nggak, Yah! Aa-aa..., aku.. aku.. b-bb, be.. belajar.. kk, kok..," kataku sambil menahan sakit.

"Bohong! Dasar anak nggak tahu aturan!" bentak ibuku.

Deg! Apa ini? Ada yang aneh dengan ayah dan ibu hari ini. Padahal, sejak pagi hingga sekarang aku sama sekali tidak menyakiti perasaan ayah dan ibuku. Tapi kok...

Bruk! Aku jatuh tersungkur akibat dorongan keras ayah. Sakit sekali.

"Sudah sana, pergi ke kamarmu! Ayah hukum kamu! Kamu tidak akan mendapat jatah makan malam selama seminggu karena perbuatanmu pada ayah dan ibu!"

Apa? Makan malam? Apa salahku? Aku tidak melakukan apapun.

"Apa yang kamu tunggu!? Cepat pergi ke kamar sana! Kami muak melihatmu, tahu!? Hukumanmu ibu tambah menjadi 2 minggu!"

Aku terkejut. Dua minggu? Tak ada pilihan lain, aku pun berlari ke kamarku. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa salahku?

Malam harinya, aku keluar dari kamarku. Tiba-tiba, ayahku memanggilku dari menyuruhku untuk memasak makan malam. Kuturuti saja. Di tengah kegiatanku, ibuku datang dan memukul punggungku dengan spatula. Sakit sekali.

"Siapa yang menyuruhmu memasak, heh!? Ibu yang memasak, bukan kamu, tahu!?" bentak ibuku sambil terus memukuliku.

"Ampun, Bu! Ayah yang menyuruhku.." jawabku. Air mataku mulai mengalir menahan sakit.

"Bohong! Ayahmu tidak mungkin menyuruh anak gila sepertimu untuk memasak makan malam! Hukumanmu ibu tambah menjadi 3 minggu!!"

"Tapi Bu..."

"Tidak ada tapi-tapian! Pergi ke kamarmu! Cepat!!!"

Aku berlari sambil menangis menahan sakit yang menjadi-jadi. Entah sudah berwarna apa punggungku itu. Kututup pintu kamarku, dan kumenangis...

Esoknya, saat aku ingin sarapan, ayahku mencegatku dan menyeretku ke halaman belakang. Aku didudukkan di atas tanah. Ayah melempar sebungkus nasi padaku. Karena sudah tak tahan akan lapar yang menyiksa, kumakan saja. Belum selesai makanku, ayah menyuruhku untuk bangkit. Tiba-tiba, 2 orang pemuda kekar keluar dari dalam rumah. Salah seorang dari mereka mencengkeram tanganku, dan yang lainnya mencengkeram kakiku. Dengan gerakan yang sangat cepat, mereka membalik tubuhku, hingga kepalaku berada di bawah. Lalu, kakiku diikat dan digantung di dahan sebuah pohon besar. 

Aku pun meronta-ronta. Namun tak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulutku.

"Apa yang kau lakukan, ayah? Apa salahku?" tanyaku sambil menangis.

"Kau dan keluargamu telah membuat keluargaku hidup susah! Perusahaan ayahmu sukses, sementara milikku tidak!" jawab beliau.

Tiba-tiba aku mulai menyadari kekeliruanku selama ini.
MEREKA BUKANLAH ORANG TUAKU!

"Ke mana ayah dan ibu?" tanyaku

"Heh, ayah dan ibumu? Dua orang bodoh dan idiot itu sudah tertidur tenang di jurang. Hahaha..!!"
tawanya melengking sekali.

Tiga orang itu pergi meninggalkanku dengan posisi terbalik. Kepalaku mulai pusing dan sakit. Ya Tuhan, adakah orang yang menyadari bahwa aku dalam bahaya? Tolonglah aku!

Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Hingga pada hari Sabtu pagi kakak sepupuku yang baik hati itu datang tanpa sepengetahuan 'orang tuaku'. Dia tidak bisa melepaskanku saat itu juga karena ia tidak tahu caranya. Ia berjanji akan datang pada hari Minggu dini hari dan melepaskanku.

Dan sekarang ini, aku telah selesai menceritakan kisah ini pada kakak sepupuku yang sedang mengetik kisah ini di blognya, dan aku masih dalam keadaan tergantung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar